JAKARTA – suksesmedia.id – Film bergenre horror besutan sutradara Kimo Stamboel telah rilis di platform berbayar Netflix. Banyak orang memuji film tersebut dengan anggaran yang terbatas, namun mampu menghadirkan film yang cukup menghibur. Betapa tidak, penonton seperti diajak berpikir ulang mengenai adanya zombie yang sebenarnya adalah bagian dari terminologi horor luar negeri, akan tetapi dengan memadukan kearifan lokal yaitu mengusung setting dan tema salah satu desa di Yogyakarta, sang sutradara seolah ingin memberikan nuansa berbeda dalam film kali ini.

Para penonton tampak memuji film yang dibintangi oleh beberapa artis dan aktor terkenal seperti Mikha Tambayong, Eva Celia, Donny Damara, dan Marthino Lio ini. Namun tak sedikit pula yang mencibir dan memberikan penilaian kurang baik dari film ini. Nah berikut ini adalah tiga alasan mengapa penonton banyak mencibir film Abadi Nan Jaya ini:

Alur Cerita Dangkal

Dalam sejumlah adegan pada saat awal menikmati film ini, Kamu akan disuguhkan dengan indahnya alam pedesaan. Lalu kemudian konflik timbul karena Sadimin, pemilik pabrik jamu yang nyaris bangkrut dan akan tutup sangat percaya diri dengan jamu hasil temuannya akan mampu menyelematkan usaha pabrik jamunya. Sayangnya, jamu yang diproduksi sudah dikonsumsi ke beberapa orang sebagai uji coba tanpa melalui prosedur medis dan lembaga kesehatan yang berwenang. Akibatnya, justru fatal. Selain jamu tersebut mengakibatkan pasien makin parah, justru menjadikan orang yang mengonsumsinya berubah menjadi zombie. Dan inilah yang terjadi saat Sadimin, sang pemilik pabrik jamu mencoba produknya sendiri sampai akhirnya menjadi zombie, kemudian menularkannya kepada orang lain, termasuk warga desa sekitarnya. Alur cerita terkesan dangkal karena setelah Sadimin menjadi zombie, menularkan kepada penduduk sekitar hampir semua adegan isinya lari-lari dan berkejaran untuk menghindari zombie. Tentu saja alur ini terkesan sangat dangkal karena bumbu konflik di dalamnya kurang mendalam, sehingga tidak mampu mebawa emosi penonton ikut ke dalamnya. Sangat jauh jika dibandingkan film “Train to Busan” dari negeri ginseng Korea Selatan.

Adegan Penuh Kekerasan

Jika kamu adalah penikmat film horror, maka tidak disarankan untuk mengajak anak-anak di bawah umur untuk menikmati film Abadi Nan jaya. Pasalnya, dalam film ini banyak sekali adegan kekerasan yang terkesan dipaksakan. Beberapa scene bahkan menampilkan kekerasan yang tidak pantas jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur. Belum lagi masalah hubungan antara adegan satu dengan adegan lainnya, terlihat kurang begitu runut dari segi alurnya dan tak lebih dari adegan kejar-kejaran para zombie yang ingin memangsa ataupun menularkan virusnya kepada orang-orang di sekitarnya.

Penggambaran Masyarakat Pedesaan Era Sekarang Terkesan Absurd

Meskipun dalam beberapa adegan digambarkan bahwa suasana khas pedesaan begitu kental misalnya hamparan sawah yang luas, suara adzan, dan udara khas pedesaan nan bersih, namun sepertinya memaksakan masyarakat desa tidak paham mengenai istilah zombie adalah kurang tepat. Apalagi di era teknologi dan informasi serta media sosial yang berkembang begitu pesat saat ini. tentu saja informasi sangatlah mudah untuk didapatkan. Artinya, penggambaran masyarakat desa yang absurd dan kurang paham soal zombie jutsru tidak tepat. Bukankah desa-desa sekarang sudah melek informasi dan riuh dengan media sosial?

Namun demikian, dibalik pro dan kontranya, banyak kalangan penonton cukup memuji film Kimo Stamboel kali ini, jika dibandingkan garapan dia sebelumnya. Meskipun belum sekelas film “Train to Busan” film Abadi Nan Jaya pantas kamu tonton dan nikmati serta cukup menghibur. (*)

By Editor