JAKARTA – suksesmedia.id – Menyaksikan film Materialist seperti membawa kita pada realitas hidup di era modern yang serba transaksional. Betapa tidak, film besutan sutradara Celine Song ini dinilai berhasil membawa penonton dalam kehidupan yang lebih nyata. Dengan mengambil setting kehidupan kota New York yang glamor dan kapitalis, film Materialist adalah salah satu tayangan yang memberikan warna berbeda pada kehidupan New York yang kompetitif, glamor dan penuh persaingan.
Dibintangi oleh artis terkenal Dakota Johnson, Chris Evan dan Pedro Pascal, film Materialist, menyuguhkan realitas hidup kaum modern yang tak luput dari perkara materi dan uang. Belum lagi pola relasi yang dibangun semuanya memang membutuhkan biaya dan waktu. Film ini diawali dengan Dakota Johnson yang berperan sebagai Lucy Mason, seorang matchmaker yang membantu para kaum single kalangan menengah atas untuk mendapatkan pasangan yang tepat. Tak hanya kriteria fisik yang menawan, Lucy juga selalu membantu para klien single untuk mendapatkan pasangan tepat sesuai kriterianya termasuk kondisi keuangan yang stabil dan fisik yang menarik.
Lucy yang bekerja di agency Matchmaker bernama “adore” justru melenggang dengan mudah untuk meyakinkan para pria menarik dan kaya papan atas, agar mampu mendapatkan pasangan yang tepat. Alur cerita kian menarik, tatkala Lucy tanpa sengaja bertemu dengan John Finch, sang mantan pacar dalam sebuah resepsi pernikahan kliennya. Penampilan Chris Evan sebagai John Finch ini tentu saja berbeda dengan debutnya sebagai Captain Amerika dalam The Avengers. Padahal, saat itu Lucy sedang mendekati calon klien single kaya raya plus potensial yang tak lain adalah adik dari pengantin pria di acara kliennya. Awalnya, mereka bertiga tampak canggung namun berkat pengalaman Lucy yang terbiasa dengan banyak klien, akhirnya bisa menetralisir rasa kikuk yang mereka alami.
Usai acara pernikahan kliennya Lucy kemudian bertemu dengan John Finch yang merupakan sang mantan kekasihnya, dan kebetulan bekerja sebagai pramusaji di perusahaan catering pernikahan itu. Seperti bernostalgia, Lucy pun mengajak John Finch untuk bertemu kembali untuk sekadar berbagi cerita masing-masing.
Anomali dan Rasa Percaya Diri
Penampilan Dakota Johnson kali ini memang agak sedikit berbeda dengan sebelumnya. Tengok saja aktingnya di film Fifty Shade of Grey yang cenderung terbuka, berani dan tetap percaya diri. Namun, dalam film Materialist ini Dakota Johnson justru berhasil menampilkan sosok yang lebih dewasa, matang dan mandiri dalam mengambil banyak hal penting di kehidupannya. Perannya sebagai matchmaker profesional terlihat menonjol dengan rasa percaya diri yang ingin coba dia tampilkan.
Lucy yang ditampilkan sebagai wanita modern yang realistis tinggal di kota metropolitan seperti New York, mampu memberikan warna berbeda. Tampak dalam sejumlah adegan, dia berusaha menyuguhkan jati diri dan karakter yang menonjol. Awalnya memang dia tertarik dengan salah satu kliennya Harry seorang pria mapan yang bekerja di perusahaan private equity, dengan penghasilan per tahun cukup menggiurkan. Tak ingin berlama-lama, Lucy dan Harry kemudian menjalin relasi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Sampai akhirnya moment malam itu terjadi ketika Lucy mendapati Harry melakukan operasi tulang untuk menambah tinggi badannya.
Meskipun operasi yang dilakukan Harry bukanlah alasan utama, akhirnya Lucy menyadari bahwa hidup dalam kepura-puraan dan segala sesuatu yang bersifat artifisal tidak akan bertahan lama. Setelah melalui banyak pertimbangan, Lucy kemudian memutuskan hubungan dengan Harry dan merasa galau hingga akhirnya dia kembali pada mantannya John Finch yang telah dipacarinya selama sepuluh tahun. Belum lagi kegagalannya mencari pasangan untuk kliennya Sophie, makin manjadikannya sedih serta kehilangan rasa percaya diri, hingga akhirnya dia memutuskan kembai bersama John Finch, meskipun dia belum menjadi apa-apa dan masih hidup sederhana. Di sini Celine Song seolah ingin menyajikan tontonan, bahwa tidak semua wanita hanya mengagungkan materi dalam berelasi atau membangun hubungan. Kisah ini bahkan menjadi kontradiksi antara anomali dan rasa percaya diri para wanita di era post modern saat ini. (*)