Aneka Kue Tradisional Hampir Punah

Sembilan Makanan Khas Indonesia yang Hampir Punah

JAKARTA – suksesmedia.id – Di tengah gempuran berbagai ragam makanan modern akhir-akhir ini, tak sedikit masyarakat Indonesia yang melupakan warisan kuliner leluhur. Apalagi kini semua makanan cepat saji begitu menjamur di seantero negeri ini. Hanya dengan sekali tekan, melalui ponsel digital setiap orang bisa dengan mudah mendapatkan makanan favorit yang diinginkannya.

Sayangnya, tak semua makanan tersebut justru sehat bagi tubuh kita. Alih-alih berhenti mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan instan, banyak orang lebih memilih cara praktis dengan makan makanan yang banyak mengandung zat pengawet. Padahal, negeri ini justru memiliki banyak warisan kuliner yang tak kalah nikmat dan tetap sehat. Nah berikut ini adalah Sembilan makanan khas Indonesia yang terlupakan dan hampir punah:

Kue Rangi (Jakarta)

Kue tradisional Betawi ini terbuat dari campuran tepung sagu dan kelapa parut yang dibakar di atas cetakan. Disajikan dengan saus gula merah kental, Kue Rangi dulu populer di Jakarta. Kini, jajanan ini semakin langka karena penjualnya sulit ditemukan. Pergeseran selera ke camilan modern membuat keberadaan Kue Rangi semakin terancam dilupakan. Jika kamu ingin mendapatkan kue ini, kamu pun harus pergi ke pasar tradisional dan berusaha mencarinya.

Gatot (Jawa Tengah & Jawa Timur)

Gatot adalah olahan singkong yang dikeringkan lalu dikukus hingga empuk. Rasanya gurih-manis, biasanya disajikan dengan kelapa parut. Dahulu menjadi makanan pokok masyarakat pedesaan ketika beras sulit didapat. Kini, karena pola konsumsi bergeser ke nasi dan makanan cepat saji, Gatot mulai menghilang dari pasaran. Gatot, sebenarnya dapat dioleh menjadi berbagai ragam makanan yang justu sehat dan terbebas dari zat pengawet.

Kue Carabikang (Jawa)

Carabikang adalah kue tradisional berbentuk mekar dengan warna-warni menarik. Teksturnya empuk dan rasanya manis legit. Dahulu sering hadir di hajatan atau pasar tradisional. Kini, jarang ditemukan karena proses pembuatannya yang rumit dan kurang diminati generasi muda. Ironisnya, generasi muda sekarang lebih menyukai cake atau kue modern penuh dengan gula dan zat pengawet yang padahal belum tentu sehat.

Jadah Tempe (Jogja)

Jadah Tempe adalah makanan khas lereng Merapi yang menggabungkan jadah (ketan gurih) dengan tempe bacem. Paduan gurih dan manis ini dulunya populer di kawasan Sleman. Kini, jumlah penjualnya berkurang drastis karena banyak orang lebih memilih makanan modern seperti burger atau sandwich. Jadah tempe ini, biasanya di makan dengan the panas dan kental bagi orang zaman dulu saat bersantai dengan keluarga.

Kue Sagon (Jawa & Betawi)

Kue ini terbuat dari campuran kelapa parut, tepung ketan, dan gula. Dahulu sering disajikan saat Lebaran atau acara keluarga. Kini, kue sagon sulit ditemui di pasaran karena tergeser oleh kue-kue modern dan produk pabrikan yang lebih praktis.

Grontol Jagung (Jawa)

Grontol adalah makanan tradisional berbahan dasar jagung rebus yang dicampur kelapa parut dan gula. Sederhana namun penuh nostalgia bagi mereka yang tumbuh di pedesaan. Kini, camilan ini mulai menghilang karena jarang ada yang menjualnya di pasar modern. Tentu saja karena alasan kepraktisan, sehingga banyak penjual yang enggan menjajakannya lantaran sepi peminat.

Kue Klepon Ubi Ungu (Jawa & Bali)

Klepon klasik mungkin masih ada, tetapi variasi unik seperti klepon ubi ungu semakin langka. Rasanya manis dengan gula merah di dalamnya, berpadu dengan aroma pandan dan gurih kelapa. Generasi muda lebih suka dessert kekinian sehingga kuliner ini sulit bertahan.

Lemet Singkong (Jawa & Sunda)

Lemet adalah kue basah tradisional berbahan singkong parut yang dicampur gula merah lalu dibungkus daun pisang. Teksturnya legit dan manis alami. Kini, kue ini jarang ditemukan kecuali di pasar tradisional tertentu karena minimnya minat anak muda. Padahal kue ini justru lezat dan bebas dari campuran zat pengawet.

Wingko Babat (Jawa Tengah)

Wingko Babat adalah kue khas Semarang yang berbahan kelapa, gula, dan tepung ketan. Aromanya harum dan rasanya manis gurih. Dahulu banyak dijual di stasiun atau terminal, kini semakin jarang karena kalah dengan oleh-oleh modern seperti brownies dan cookies. Namun, jika kamu masih gemar dengan makanan wingko ini, banyak toko panganan di semarang yang masih menjual ini. (*)

By Editor