JAKARTA – suksesmedia.id – Menyiapkan makanan untuk anak balita terkadang susah gampang. Pasalnya, metabolism dan sistem pencernaanya yang belum sempurna kadangkala menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua. Oleh karena itu, ada baiknya para orangtua merencanakan menu makan yang sehat dan sesuai dengan porsi gizi yang dibutuhkan oleh anak-anak. Terlebih bagi anak balita yang membutuhkan perhatian khusus untuk kebutuhan nutrisinya.

Selain itu, kebutuhan nutrisi untuk anak balita hendaknya memenuhi empat kriteria penting yaitu kandungan protein, sayuran, buah dan karbohidrat. Pada beberapa jenis masakan, disarankan untuk memasak makanan dengan cara dikukus atau bahkan dipanggang. Cara ini menjadi salah satu langkah efektif untuk menjaga agar kandungan gizi anak tetap terjaga dan tidak berkurang. Namun sayangnya, banyak para orangtua abai dengan makanan yang ingin disajikan untuk sang buah hati. Nah berikut ini adalah lima jenis makanan yang harus dihindari oleh balita:

Makanan Ultra Prosess

Makanan ultra proses atau olahan pabrik memang mudah untuk disajikan. Selain karena cara memasaknya praktis, terkadang justru disukai oleh anak-anak balita. Padahal makan ultra proses justru kurang sehat dan memiliki kandungan gizi yang tidak seimbang. Terlebih jenis makanan ini juga tidak disarankan oleh para pakar gizi dan dokter anak untuk memenuhi kecukupan gizi anak balita. Sejumlah makanan seperti nugget, sosis, bankso, kentang goreng, ham, mie instan, kripik, ciki, bahkan saos dan mayonise pun tidak disarankan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School, makanan ultra proses yang dikonsumsi oleh balita menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang pada anak. Tak hanya itu, makanan ultra proses juga bisa berdampak pada terjadinya obesitas, defisiensi nutrisi dan juga dalam banyak kasus bisa menjadi pemicu terjadinya gangguan perilaku pada anak balita.

Makanan Tinggi Gula

Makanan tinggi gula terkadang memang disukai anak kecil apalagi saat balita. Seperti misalnya, beberapa jenis makanan seperti es krim, donat, permen dan coklat manis. Meskipun masih diperbolehkan untuk diberikan, namun makanan jenis ini tidak boleh terlalu sering untuk diberikan kepada anak-anak. Terlabih bagi anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang seperti balita.

Dokter Anak dan ahli gizi bahkan menyatakan bahwa makanan tinggi gula justru berdampak kurang baik bagi anak kesehatan anak balita. Makanan dengan kandungan gulan tinggi bisa mengakibatkan gigi berlubang pada anak balita, mengurangi nafsu makan dan bisa menyebabkan anak balita mengalami gangguan perilaku hiperaktif.

Makanan Tinggi Garam dan Penyedap

Pada anak-anak balita, proses metabolime mereka cenderung masih belum optimal. Oleh karena itu, konsumsi makanan dengan kandungan garam yang terlalu tinggi dan menggunakan bumbu penyedap terlalu banyak justru tidak disarankan. Beberapa jenis makanan cepat saji dengan kandungan MSG dan micin yang berlebihan justru kurang sehat. Mengapa demikian? Yes, banyak dokter anak menyebutkan bahwa makanan dengan tinggi garam dan micin justru akan menyebab kan anak balita mengalami penurunan nafsu makan. Selain itu, juga bisa berdampak pada preferensi makanan saat dewasa sehingga menjadikan mereka menjadi individu yang cenderung memilih makanan dengan kandungan garam yang tinggi. Lebih dari itu, pada anak-anak balita yang terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam maupun penyedap, dapat berpengaruh pada kesehatan ginjalnya.

Makanan Mentah dan Setengah Matang

Makanan mentah seperti salmon dan telur setengah matang tidak disarankan untuk diberikan kepada anak-anak balita. Pasalnya, dikhawatirkan makanan ini bisa mempengaruhi metabolism anak. Pada anak-anak balita, jenis makanan ini terkadang mengandung salmonella atau bakteri coli karena proses memasak yang kurang sehat. Akibatnya, anak-anak balita akan mengalami gangguan metabolism yang berujung pada diare atau bahkan sakit perut. Jadi disarankan bagi para orangtua yang memiliki anak balita hendaknya, tidak memberikan makanan mentah atau pun setengah matang.

Makanan Dengen Pewarna Buatan

Sekilas makanan camilan warna-warni tampak menarik dan enak. Namun bagi anak-anak balita, belum tentu cocok. Faktanya, makanan dengan zat pewarna buatan tak jarang justru kurang sehat bagi anak balita. Terlebih jika makanan tersebut mengandung zat perisa yang tinggi seperti aspartan dan sakarin. Jadi disarankan bagi para orangtua agar tetap senantiasa berhati-hati saat memberikan makanan kepada sang buah hati yang masih balita. Alih-alih ingin sehat yang terjadi justru sakit karena makanan yang diberikan justru mengandung pengawet buatan. Batuk, diare, pusing dan mual atau terasa ingin muntah adalah salah satu contoh keluhan yang dirasakan oleh anak-anak karena kerancunan makanan mengandung zat pengawet. (*)

By Editor