JAKARTA – suksesmedia.id – Menjadi orangtua bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika kamu adalah tipe orangtua yang semua ingin terlihat sempurna tanpa ada masalah sedikitpun. Padahal, setiap kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak, sesungguhnya merupakan bagian penting dalam perkembangan fisik, emosi dan psikososialnya. Jadi jika anakmu sedang mengalami masalah, upayakan untuk tetap tenang dan jangan berusaha membereskan semua kekecauan yang telah ditimbulkannya.
Sayangnya, banyak para orangtua saat ini justru merasa bahwa anak-anak tidak boleh hidup susah dan merasa bahwa setiap masalah adalah tanggung jawab orangtua. Alih-alih mengajarkan anak untuk mengatasi masalah, sesuai dengan tugas sesuai perkembangan usianya, yang terjadi justru para orangtua terlalu ikut campur pada urusan anak-anaknya. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang dependen atau tergantung dengan orangtua dan kurang mandiri. Bahkan cenderung rapuh ketika menghadapi masalah. Hal ini senada dengan riset yang telah dilakukan oleh Dr. Diana Baumrind, seorang Psikolog dan juga professor dari Univerity of California Berkeley yang menyatakan bahwa Anak berkembang paling optimal ketika orang tua memberikan kasih sayang, bimbingan, dan batasan yang jelas. Kehangatan dan struktur berjalan beriringan dalam membentuk karakter yang kuat.
Nah berikut ini adalah sejumlah kesalahan orangtua yang justru berakibat fatal pada anak:
Terlalu Sering Membandingkan Anak
Sikap sering membandingkan anak sendiri dengan orang lain seperti anak tetangga, anak sahabat, dan anak-anak lainnya sesungguhnya bukanlah merupakan tindakan yang bijaksana. Sebab pada dasarnya, setiap anak memiliki garis waktu dan perkembangan yang unik. Artinya, ketika orangtua membandingkan anak dengan orang lain, justru menjadikan anak tumbuh jadi pribadi yang kurang percaya diri, merasa kurang dan bahkan tak jarang menutup diri dengan pergaulan di luar. Padahal, tindakan ini hanya akan merusak kemampuan dan kematangan psikososial anak-anak yang seharusnya dapat berkembang secara alamiah dan positif. Jadi alih-alih membadingkan anak dengan orang lain, lebih baik mengajak anak untuk berdiskusi, bertukar pikiran dan bicara dari hati-kehati. Lalu jangan lupa untuk menyemangati setiap kemajuan kecil yang telah dicapai oleh sang buah hati.
Terlalu Protektif Pada Anak
Para orangtua terkadang lupa bahwa anak-anak adalah pribadi yang berbeda. Meskipun mereka adalah anak-anak, bagaimanapun mereka adalah individu yang berbeda dengan kita para orangtua. Tak jarang karena khawatir berlebihan, para orangtua justru menjadi over protective pada anak, yang justru berujung pada anak yang tumbuh menjadi anak penakut, kurang mandiri serta tidak berani mengambil resiko atau pun tantangan baru. Terlalu melindungi anak-anak untuk semua masalah yang mereka hadapi, justru hanya akan menjadikan mereka tumbuh sebagai individu yang bingung dan tak tahu harus merespon ataupun bersikap. Jadi, alih-alih bertindak overprotective, lebih baik para orangtua berusaha menerapkan parenting yang demorkatis namun tetap berusaha melindungi anak sesuai dengan porsinya.
Kurang Mendengarkan Anak
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang terlalu otoriter dan tidak di dengar pendapatnya, akan menjadikan mereka tumbuh sebagai pribadi yang makin tertutup. Tentu saja hal ini disebabkan anak-anak kurang suka berinteraksi dengan orangtua yang terlalu otoriter, dan terkesan memaksakan diri. Meksipun tujuan orangtua baik, namun hendaknya dilakukan melalui cara yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pada banyak kasus, anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua otoriter dan kurang mendengarkan, mereka akan tumbuh jadi pribadi tertutup dan kurang percaya diri. Apalagi jika para orangtua merasa paling benar karena berpengalaman. Padahal, pengalaman masa lalu belum tentu relevan dengan kondisi saat ini. Jika kamu adalah orangtua yang otoriter, ada baiknya mulai sekarang berusaha mendengarkan keluh kesah anak, agar makin dekat secara emosional dengan anak.
Menggunakan Hukuman Fisik dan Kekerasan Verbal Berlebihan
Mengapa hukuman fisik yang berlebihan justru tidak disarankan bagi para orangtua dalam mendidik anak? Well, tindakan ini sebentar saja akan membuat anak menjadi patuh, namun di kemudian hari anak-anak hanya akan menjadi pribadi yang keras dan agresif. Bahkan pada banyak kasus, anak-anak yang mendapatkan hukuman kekerasan fisik terlalu berlebihan seperti pukulan, cambukan, dan bentakan yang kasar justru akan menyebabkan anak mengalami truma pola parenting yang salah. Alih-alih anak tumbuh menjadi individu yang dewasa, yang terjadi bisa jadi mereka akan melakukan hal yang sama kepada orang di sekitarnya. Bahkan tak jarang mereka tantrum walaupun usia mereka sudah dewasa.
Menggunakan Gadget Sebagai Pengasuh Tercepat
Di era digital dengan gempuran informasi dan tayangan media sosial saat ini, para orangtua tak jarang lebih memilih cara instan. Cara itu ditempuh dengan memberikan gadget sebagai pengasuh tercepat, agar tidak rewel, diam dan tidak merepotkan orangtua. Padahal tindakan ini justru salah besar. Alih-alih anak menjadi sehat, yang terjadi adalah anak tumbuh tidak normal karena motoric kasar dan motoric halusnya tidak dapat berkembang dengan optimal. Tak hanya itu, mereka juga akhirnya saat dewasa mereka sangat mungkin menjadi pribadi yang emosional, tidak mampu mengendalikan emosi, memiliki ketrampilan sosial dan interaksi yang buruk, sampai dengan mudah tantrum jika terjadi masalah-masalah sederhana. Nah..jadi apakah kamu sebagai orangtua tetap akan menggunakan gadget terus untuk membuat anak diam sejenak tapi justru merusaknya di kemudian hari? Para psikolog dan pediatric menyarakan bahwa sebelum anak berusia 3 tahun tidak diperkenankan terpapar oleh gadget, agar motoric kasar dan motoric halus mereka berkembang dengan optimal. Setelah usia tiga tahun pun maksimal penggunaan gadget hanya 1 jam setiap hari, agar sensoris mereka tetap terstimulus secara alamiah. Bukan karena gadget saja.
Memberikan Reward dan Memuji Anak Secara Berlebihan
Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan pujian dan reward yang berlebih justru kurang baik. Mengapa demikian? Tentu saja tindakan ini hanya akan berdampak pada anak yang selalu haus akan validasi orangtua. Memberikan pujian berlebihan tanpa mengajarkan anak berporses dan menerima kegagalan hanya akan menjadikan anak tumbuh jadi pribadi yang rapuh. Tak hanya itu, mereka justru kurang siap menerima kegagalan dalam hidupnya. Padahal, kehidupan di dunia yang sebenarnya tidaklah sesempurna yang disampaikan dalam pujian. Lalu bagaimana memberikan pujian dan reward yang tepat? Sebagai orangtua hendaknya bisa memilah dan memilih ketika hendak memuji anak. Untuk hal-hal yang sederhana, cukup dilakukan sesuai proses dan tugasnya saja. Namun pada hal-hal yang lebih kompleks dan rumit, memberikan pujian dan reward bagi anak akan menjadikannya lebih termotivasi oleh hal-hal yang sulit dan penuh resiko. Cara ini akan membuatnya makin resilien dan Tangguh dalam menghadapi kerasnya hidup.
Tidak Konsisten Dalam Aturan
Pasangan suami dan istri yang tidak kompak dalam menerapkan parenting, akan menjadikan anak kebingungan. Tak hanya itu, anak-anak yang jeli, kemudian justru akan memanfaatkan hal ini untuk mencari peluang dari kedua orangtua. Misalnya, ketika anak batuk, sang ayah membolehkan minum es namun ibunda tidak, justru di sinilah kesalahan fatal yang terkesan sepele namun justru kurang baik di kemudian hari. Pemberian aturan yang konsisten dan kompak antara kedua orangtua adalah kunci utama dalam mendisiplinkan anak. Mereka akan melihat bahwa kedua orangtuanya memiliki tujuan yang sama dan menjadikannya anak yang disiplin dan patuh. Dan yang lebih menarik lagi, anak tidak tumbuh menjadi individu manipulative karena memanfaatkan kelemahan kedua orangtua yang tidak kompak. (*)