JAKARTA – suksesmedia.id – Penderita Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau yang biasa dikenal dengan gangguan fokus dan pemusatan pikiran kini tak hanya dialami oleh anak-anak saja. Bahkan seiring dengan canggihnya ilmu neurosains dan psikologi, penderita ADHD di kalangan usia dewasa pun kini bisa dideteksi dan diketahui lebih awal. Mira (32) misalnya, seorang pegawai di salah satu perusahaan Bank Swasta di Jakarta belakangan ini seringkali mengalami hal-hal yang tak lazim. Meksipun sudah bekerja kurang lebih lima tahun di Bank tersebut, dia masih sering sulit fokus dengan pekerjaanya. Tak hanya itu, Mira (32) juga seringkali mudah terdistraksi oleh hal-hal remeh yang dapat mengganggu pekerjaanya.
Sayangnya, ketika diingatkan oleh koleganya untuk tetap fokus pada pekerjaanya Mira (32) justru marah dan meledak secara emosional. Di sisi lain, dia juga seringkali menunda tugas dan sebenarnya bisa dikerjakan jauh-jauh hari. Kebiasaanya yang cenderung impulsive dan kurang mampu menyusun prioritas membuatnya keteteran serta berdampak buruk pada pekerjaanya. Tentu saja fakta ini makin membuatnya makin frustasi dan merasa makin terpuruk dalam pekerjaanya.
Kasus Mira (32) adalah sebagian kecil gunung es yang di Indonesia yang kadang luput dari pemantauan orang-orang sekitar. Untungnya, berkat saran dari kolega terdekatnya dia kemudian dia berkonsultasi dengan Psikolog Klinis Dewasa dan dilanjutkan ke Psikiater atau Dokter Kesehatan Jiwa. Usut punya usut, ternyata Mira (32) terdiagnosis menderita gangguan ADHD atau gangguan pemusatan fokus. Kenyataan ini tentu saja membuatnya makin tak karuan karena belum mampu mempercayainya. Nah jika kamu mengalami hal yang sama seperti kasus Mira (32) berikut ini adalah empat penyebab dan faktor seseorang terdiagnosis mengalami gangguan ADHD:
Faktor Genetis dan Biologis
Faktor penting yang sering dikatagorikan sebagai salah satu penyebab utama dari terjadinya gangguan ADHD adalah adanya faktor genetis dan biologis. Adanya gangguan metabolism pada bayi saat dalam kandungan, kelainan kromosom, dan Riwayat bayi yang lahir di bawah normal dipercaya menjadi salah satu faktor penting seseorang mengalami gangguan ADHD. Sementara itu, adanya kejadian bayi cidera sejak lahir di bagian otak, sangat besar pengaruhnya pada kasus ADHD. Bahkan tak jarang hal ini terbawa hingga seseorang menjadi dewasa. Dan faktanya, semua hal di atas justru menjadi faktor penyebab utama bagi seseorang sejak bayi hingga masa kanak-kanak mengalami gangguan pada fungsi motoric, bahasa dan kecerdasannya. Temuan ini diperkuat oleh Dr. Edward M. Hallowell, M.D, Psikiater Harvard Medical School; penulis buku “Driven to Distraction” dan “Delivered from Distraction yang menyatakan bahwa ADHD memiliki komponen biologis dan genetik yang kuat.
Faktor Neurologis dan Fungsi Otak,
Pada kasus bayi yang lahir premature atau anak-anak dengan perbedaan di area prefrontal cortex, striatum, dan sistem dopamin pada penderita ADHD, biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol fokus dan mengatur impus dalam jangka panjang. Tentu saja situasi ini jelas berdampak kurang baik bagi kontrol emosi anak-anak dengan gangguan ADHD dan sudah barang tentu akan berpengaruh hingga kelak tumbuh dewasa. Meskipun kadang-kadang pada masa kanak-kanak belum terlihat secara jelas, tak jarang para penderita gangguan ADHD bisa saja terlihat setelah mereka remaja atau dewasa. Apalagi jika lingkungan tumbuh kembangnya tidak mampu menstimulusnya dengan baik. Jadi jangan heran jika gangguan ini justru makin berat seiring bertambahnya usia penderita jika tidak ditangani dengan baik.
Lingkungan dan Sosial Buruk
Lingkungan yang buruk dan tidak dapat mendukung tumbuh kembang anak hingga dewasa, bisa menjadi faktor pencetus bagi seseorang untuk mengalami ADHD kian parah. Apalagi jika dikaitkan dengan situasi dan kondisi parenting yang kurang suportif, jadi jangan harap kondisi ADHD seseorang makin membaik. Alih-alih sembuh atau dikontrol, yang terjadi justru makin parah dan penderita mengalami kesulitan mengontrol emosi, sulit fokus dan tak jarang didera stres berkepanjangan.
Psikosial Tidak Suportif
Walaupun bukan merupakan penyebab utama, namun faktor psikososial sesungguhnya merupakan faktor penting yang dapat berpengaruh bagi ganggun ADHD. Banyak kasus ditemukan bahwa anak-anak yang lahir, tumbuh dan dibesarkan di lingkungan yang kasar dan tidak suportif memiliki kecenderungan lebih mudah marah secara agresif. Bukan hanya itu, mereka juga akan tumbuh menjadi individu yang rapuh rentan mengalami stress dan kurang peka terhadap lingkungan sosial. Parahnya, jika hal ini berlangsung dalam waktu lama serta terakumulasi dapat menjadi faktor pemicu berat bagi terjadinya ADHD yang kian parah. Jadi apakah kamu masih menyepelekan gejala ADHD yang bisa saja dialami saat dewasa? Segera periksa ke profesional terdekat jika kamu ragu atau kurang yakin ya…(*)