JAKARTA – suksesmedia.id – Sustainable food kini tengah hangat diterapkan di beberapa negara maju. Hal ini tentu saja sebagai bagian dari praktek penerapan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Sustainable food sebenarnya sudah diterapkan oleh orang-orang zaman dahulu, namun seiring perkembangan zaman dan teknologi banyak orang meninggalkannya. Tentu saja dengan alasan lebih cepat dan kepraktisan. Padahal pilihan meninggalkan praktek sustainable food tidak sepenuhnya tepat.

Lalu apa sebenarnya sustainable food itu? Dilansir dari Food and Agriculture Organization (FAO) adalah makanan yang memiliki dampak lingkungan rendah dan mampu menjamin ketahanan pangan serta gizi bagi generasi kini dan mendatang.Artinya, makanan berkelanjutan bukan hanya tentang pola makan sehat, tapi juga cara memproduksi dan mendistribusikannya secara ramah lingkungan. Nah berikut ini adalah empat prinsip wajib kamu ketahu mengenai sustainable food:

Bahan Lokal dan Musiman

Mengonsumsi bahan pangan lokal berarti mendukung petani sekitar dan mengurangi jejak karbon akibat transportasi jarak jauh. Selain itu, bahan makanan musiman biasanya lebih segar, bergizi, dan ramah lingkungan karena tidak memerlukan proses penyimpanan panjang. Contohnya membeli sayur dari pasar tradisional atau komunitas tani lokal lebih berkelanjutan dibanding membeli produk impor di supermarket besar. Berita bagusnya, kamu bisa mendapatkan bahan yang segar dari petani langsung serta mendapatkan harga yang lumayan kompetitif.

Minim Limbah Makanan (Zero Food Waste)

Berdasarkan fakta dari FAO, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun di dunia. Sungguh sayang sekali bukan? Padahal masih banyak orang-orang yang membutuhkan makanan karena mereka kekurangan bahan pangan yang sehat dan bergizi. Sementara itu, gerakan zero food waste menekankan pentingnya mengolah makanan dengan bijak, menggunakan bahan sisa untuk resep baru, atau mengomposkan limbah organik. Contohnya, kulit buah bisa diolah jadi infused water, dan sisa sayuran bisa dijadikan kaldu alami.

Penggunaan Bahan Ramah Lingkungan

Petani dan produsen sustainable food berusaha menggunakan pupuk organik, air secukupnya, dan metode tanam ramah lingkungan. Selain itu, mereka juga menghindari pestisida berbahaya dan memilih kemasan yang biodegradable atau bisa didaur ulang. Pada prinsipnya, semakin sedikit bahan kimia yang digunakan, semakin sehat pula hasil panennya — baik untuk tubuh maupun alam. Tak hanya itu, penggunaan bahan kimia juga berpotensi merusak ekosistem lahan pertanian bagi para petani. Akibatnya, hasil produksi pertanian menjadi kurang maksimal atau justru berkualitas rendah karena terkontaminasi oleh bahan kimia yang berlebihan.

Etika Sosial dan Kesejahteraan Petani

Kuliner berkelanjutan tidak hanya tentang lingkungan, tetapi juga kemanusiaan. Seharusnya, petani dan pekerja yang menanam, memanen, dan mengolah makanan harus mendapatkan upah yang layak dan kondisi kerja yang adil. Di sisi lain, keberhasilan dari para petani dalam menghasilkan bahan pertanian yang lebih unggul melalui bahan-bahan natural justru mampu menjaga kesehatan jangka panjang. Tak hanya itu, prinsip keberlanjutan juga justru berdampak positif bagi para petani tradisional, sehingga mereka mendapatkan imbal hasil yang layak. Inilah sebabnya muncul label seperti Fair Trade, yang menandakan produk tersebut memenuhi standar etika sosial dan lingkungan.

Sustainable food pada dasarnya bukan semata hanya menerapkan praktek pengelolaan dan budaya pertanian yang ramah lingkungan, sehingga menghasilkan produk pertanian berkualitas. Lebih dari itu, penerapan sustainable food juga menjadikan supply bahan pangan menjadi lebih tepat guna dan terjadi pola relasi yang baik antara petani penghasil produk pertanian dan masyarakat sebagai konsumen. (*)

By Editor