JAKARTA – suksesmedia.id – Hikikomori merupakan fenomena yang masih terjadi di Jepang, salah satu negara maju yang dulu pernah dikagumi banyak orang. Betapa tidak, negara yang terletak di Kawasan asia ini tengah mengalami problem yang cukup pelik. Terutama berkaitan dengan struktur demografi penduduk yang dari hari ke hari jumlah kelahiran atau natalitasnya makin rendah. Namun, ironisnya jumlah penduduk lansia justru makin meningkat tajam.

Tentu saja angka kesenjangan usia produktif di Jepang menjadi persoalan pemerintah tersendiri sebab negara harus mengeluarkan biaya jaminan kesehatan bagi para lansia dalam jumlah lebih besar. Belum lagi jumlah penduduk muda yang kian menyusut, dan tidak dibarengi dengan angka kelahiran yang memadai, sehingga dikhawatirkan di masa yang akan datang Jepang akan kekurangan tenaga muda produktif, yang dapat berkontribusi pada kemajuan dan perekonomian negara matahari terbit ini.

Manariknya, semakin hari makin banyak anak muda Jepang yang mengalami stress dan depresi karena sejumlah tekanan hidup yang mereka alami. Tekanan hidup ini bisa berupa tekanan sosial, tekanan finansial hingga perubahan dinamika zaman yang makin tak terelakan. Bahkan, dilansir dari berbagai sumber media di Jepang, angka bunuh diri di Jepang ternyata cukup besar dari tahun ke tahun. Berdasarkan data  statistik awal MHLW, valid hingga Februari 2025, Jepang mengalami angka bunuh diri cukup besar yaitu 20,268 jiwa per tahunnya. Sungguh angka yang tidak main-main bagi negara maju seperti Jepang. Namun tahukah Anda bahwa dibalik itu semua, banyak anak muda yang kini melakukan hikikomori, dikarenakan ingin menutup diri dari lingkungan.

Lalu apakah yang dimaksud hikikomori? Hikikomori adalah fenomena sosial di Jepang yang merujuk pada kondisi seseorang, terutama remaja dan dewasa muda, yang menarik diri secara ekstrem dari kehidupan sosial dan memilih untuk mengisolasi diri di dalam rumah — sering kali di kamar mereka sendiri — selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok remaja dan dewasa. Adapun rentang usia mereka berkisar antara 15-40 tahun dengan variasi lokasi yang beragam. Jika pada awalnya orang-orang yang melakukan hikikomori ini lebih banyak tinggal di kota-kota metropolis seperti Tokyo dan Kyoto, namun kini para pelaku hikikomori ini justru banyak yang tinggal di kota-kota kecil.

Menutup Diri dan Enggan Berinteraksi

Orang-orang Jepang yang melakukan hikikomori biasanya enggan melakukan interaksi dengan dunia luar. Selain itu, mereka juga lebih suka mengurung diri di dalam kamar, serta minim berhubungan dengan orang luar. Tak hanya itu, para penduduk Jepang yang melakukan hikikomori biasanya memiliki ketergantungan dan jadi beban bagi pada keluarga mereka hingga bertahun-tahun.

Lalu apa yang menyebabkan orang jepang melakukan hikikomori? Tekanan sosial dan ekspektasi yang terlalu tinggi bagi masyarakat Jepang menjadikan mereka takut mengecewakan keluarga dan kerabat terdekat. Akibatnya, mereka justru menutupi diri dan malu karena dianggap gagal. Selain itu, adanya fenomena bullying di sekolah diakui telah berdampak buruk bagi anak-anak muda di Jepang hingga terbawa sampai usia dewasa. Belum lagi anggapan masyarakat Jepang yang masing merasa tabu jika orang mengalami gangguan psikologis. Akibatnya, banyak anak muda dan orang Jepang mengalami social anxiety disorder atau gangguan kecemasan saat berinteraksi dengan dunia luar.

Parahnya, banyak anak muda Jepang yang mengalami kecanduan game online, anime, sampai dengan media sosial yang justru membuat mereka makin jauh dari dunia nyata. Alih-alih melakukan interaksi dengan dunia luar, mereka justru makin asik dengan dunia virtual yang menjadikan mereka makin kecanduan. Sungguh ironis dan menjadikan anak muda Jepang makin terpuruk karena kesalahan dalam memaknai dunia media sosial, game dan anime. Jadi apakah Anda ingin seperti masyarakt Jepang yang berujung melakukan hikikomori?Semoga Tidak ya…. (*)

By Editor