JAKARTA – suksesmedia.id – Pernahkah Kamu merasa ikut terbawa suasana yang mengharu-biru saat menonton film romantis yang penuh kedalaman makna? Jika iya, My Oxford Year adalah salah satu film romantis yang pantas kamu nikmati. Film yang diangkat dari novel karya Julia Whelan, ini akan memberimu banyak hikmah mengenai hubungan dan jalinan yang solid dalam kehidupan. Baik itu relasi dengan keluarga, kekasih, persahabatan dan lainnya.
My Oxford Year dibintangi oleh Sofia Carson dan Corey Mylchreest sebagai pemeran utama, serta merupakan tokoh sentral. Setelah sukses berperan sebagai pangeran dalam serial Queen Charlotte, Corey Mylchreest justru makin terlihat makin matang dalam aktingnya. Film bergenre cinta dan romansa ini, sedikit banyak akan membuatmu paham betapa pentingnya menikmati setiap moment kecil di dalam seluruh sisi kehidupan. Namun, sayangnya banyak kalangan menilai acting Sofia Carson justru kurang begitu maksimal karena dalam sejumlah adegan kurang begitu bisa memunculkan emosi yang mendalam. Seperti misalnya dalam adegan yang sedang berkonflik dan sedih, tampak dia ingin menangis namun tidak terlihat air mata dan terkesan dipaksakan aktingnya.
Kendati demikian, kekurangan akting dari Sofia Carson tetap bisa ditutupi oleh Corey Mylchreest yang berperan sebagai Jamie Davenport, salah satu keluarga bangsawan yang Kerajaan Inggris yang terkenal kaya dan makmur. Tak hanya itu, kesan ningrat yang terpancar dalam perilaku Jamie Davenport dapat diperankan Corey Mylchreest dengan sangat memukau. Tampak dalam sejumlah adegan, wajah tampan aktor kelahiran 8 Mei 1998 ini terlihat begitu epic dengan khas aksen british keluarga ningrat Kerajaan Inggris.
Cerita diawali dengan Anna De La Vega yang diperankan oleh Sofia Carson, memiliki mimpi untuk sekolah kembali di University of Oxford, salah satu kampus terbaik di dunia yang menjadi idaman banyak orang. Padahal, dia telah lulus kuliah di kampus top Amerika dan sudah mendapatkan penawaran kerja di Goldman Sachs, salah satu perusahaan keuangan terkemuka di negeri paman sam itu, sebagai analis keuangan. Alur cerita makin menarik, ketika akhirnya Anna memutuskan untuk mengambil kembali kuliah master jurusan sastra di Oxford selama setahun. Di sanalah dia akhirnya bertemu dengan Jamie Davenport, seorang keluarga ningrat kerajaan Inggris yang sekaligus dosen sastra yang mengajarnya.
Hubungan Anna dan Jamie makin erat, dengan riak kecil dan konflik yang naik turun. Namun, situasi makin memuncak, ketika ternyata Jamie mengidap Kanker mematikan dan usianya tidak lagi lama. Situasi makin kacau ketika Jamie berselisih paham dengan sang ayah karena tidak bersedia menjalani pengobatan kanker, dengan alasan adiknya pun juga telah mengalami hal yang sama. Dilemma yang berat dan tak terlekan membuat Jamie akhirnya memilih untuk tetap menjalani sisa usianya bersama Anna, gadis keturunan amerika latin yang dicintainya.
Penuh Pesan Cinta Mendalam
Suasana kampus Oxford yang estetik dan kaya dengan keindahan arsitektur tempo dulu bisa juga kamu nikmati di film besutan sutradara Ian Morris ini. Selain itu, kamu juga akan dimanjakan dengan berbagai tempat estetik seperti perpustakaan di kampus Oxford yang sudah berusia ratusan tahun, bangunan dan Gedung kampus nan megah namun tetap terawat meski sudah ribuan tahun, plus kostum saat masuk kampus perdana mirip film Harry Potter yang bisa mengingatkanmu pada film fenomenal lintas generasi ini.
My Oxford Year, juga dibumbui banyak sekali konflik yang berwarna baik konflik keluarga, konflik pasangan, pertemanan bahkan konflik dan dilema dalam hubungan yang cukup kompleks. Meskipun berakhir dengan kesedihan, film My Oxford Year adalah salah satu tayangan yang wajib kamu nikmati karena memberikan banyak hikmah dan kedalaman makna. Selain itu, film ini juga memberikanmu pesan bahwa tak ada yang abadi dalam kehidupan ini, sebab semua akan berakhir pada masanya. Begitulah kiranya, pesan yang hendak disampaikan dalam film ini. Jadi tunggu apa lagi? (*)