JAKARTA – suksesmedia.id – Film dengan genre sejarah yang dianggap tabu kembali digarap oleh sutradara kenamaan Hanung Bramantyo. Adalah Gowok Kamasutra Jawa, film dengan tema percintaan dengan bumbu sejarah Indonesia pasca kemerdekaan cukup menyita banyak perhatian penonton. Apalagi bagi kamu yang gemar dan menyuka isu keseteraan gender dan perlindungan terhadap kaum perempuan.
Gowok Kamasutra Jawa adalah film dengan yang menyajikan alur cerita sejarah mengenai pendidikan seksualitas kepada para kaum priyayi dan bangsawan pada era setelah kemerdekaan yaitu tahun 1955 – 1965. Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor kenamaan seperti Lola Amaria, Raihaanun, Alika Jantinia, Devano Danendra, and Reza Rahadian. Film yang berdurasi 2 jam 4 menit ini, mengisahkan tentang cara kaum priyayi memberikan pendidikan seksual kepada anak laki-laki mereka yang akan menjadi penerus keluarga bangsawannya. Tradisi gowok, sebenarnya dibawa oleh jendral China yang pernah berperang di Indonesia yaitu Laksamana Cheng Ho dengan membawa perempuan bernama Goo Wook Niang untuk memberikan pendidikan seksual kepada para pria bangsawan muda. Dari dari sinilah sebenarnya tradisi gowok lahir.
Dilatarbelakangi oleh suasana dan sejarah kental Jawa, khususnya Bumi Ayu kala itu, Gowok Kamasutra Jawa memberikan perspektif lain mengenai cerita dan sejarah. Berbeda dengan sejarah kerajaan di Jawa maupun di nusantara, laki-laki dinilai sebagai kaum patriarki yang seringkali menjadi pihak yang mendikte dan berkuasa bagi banyak aspek dalam kehidupan, namun dalam film Gowok Kamasutra Jawa ini justru menghadirkan kisah berbebda. Proses pembelajaran langsung mengenai pendidikan seksual bagi kaum pria bangsawan ini justru diajarkan oleh perempuan yang dianggap memiliki kemampuan dan pengalaman dalam memberikan pendidikan seksual secara langsung.
Pesan menarik yang hendak disampaikan dalam film ini terasa sangat kental, karena seksualitas sesungguhnya bukanlah hal yang tabu. Tampak kentara di beberapa adegan, Gowok yang diperankan oleh Lola Amaria sebagai senior memberikan pelajaran berharga kepada penerusnya Ratri yang diperankan oleh Raihanuun. Penampilan Lola Amaria dan Raihanuun tak diragukan lagi sebagai artis senior yang telah malang-melintang di dunia hiburan. Namun, banyak kalangan dan penonton menilai acting Devano Danendra terlihat kurang naturan pada saat melafalkan bahasa Jawa dialek Bumiayu. Beberapa kalimat bahkan terdengar berdampur dengan bahasa Indonesia. Hal inilah yang cukup disayangkan oleh sejumlah penonton. Namun, hal ini cukup kontras dengan akting dari Alika Jantinia yang berperan sebagai Ratri Muda. Artis muda ini cukup apik memerankan tokoh Ratri muda dengan penuh penghayatan. Tampak beberapa dialog juga dapat dilakukannya dengan cukup natural.
Isu Keberagaman dan Kesetaraan Gender
Film Gowok Kamasutra Jawa juga sarat dengan pesan makna mengenai kesetaraan gender dan keberagaman. Tampak beberapa adegan menyajikan bagaimana Ratri yang merupakan wanita ingin turut berjuang agar para wanita mendapatkan pendidiakan yang layak. Apalagi di era tahun 1960-an wanita masih dianggap kaum yang kurang diperhitungkan.
Bahkan di film ini juga ditayangkan bagaimana awal mula Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia ini terbentuk di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun sayangnya, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) kala itu justru disangkakan dengan oknum yang menentang pemerintah melalui gerakan revolusi, serta disangka berafiliasi dengan komunisme.
Sementara itu, sosok Liyan yang merupakan pria yang berpakaian wanita dan menjadi pelayan Nyai Santi (Lola Amaria) seolah memberikan warna berbeda, bahwa sebenarnya isu mengenai keberagaman, gender dan feminism pada kaum pria sudah ada sejak zaman kerajaan di Indonesia. (*)