Sumber:Netflix

JAKARTA – suksesmedia.id – Drama Korea berjudul “When Life Gives You Tangerines” telah rampung tayang di platform berbayar Netflix. Nah buat kamu yang suka dengan genre drakor romantis penuh warna dalam kehidupan, sudah pasti salah satu drakor ini layak kamu tonton. Betapa tidak, drakor dengan setting dimulai di tahun 1950-an ketika Korea Selatan masih mengalami zaman yang sulit sudah tentu akan mengajakmu flasback ke masa lalu.

Drakor “When Life Gives You Tangerines” dibintangi oleh Moon So Ri dan Park Hae Joon sebagai tokoh sentral. Tak hanya itu, drakor ini juga sarat dengan berbagai scene yang menyentuh hati. Menariknya, drakor yang merupakan arahan sutradara Kim Won-seok dan ditulis oleh Lim Sang-choon, tak hanya bertabur setting yang membawamu bernostalgia di era zaman dulu, kamu juga akan dibawa ke dalam lorong kisah cinta dua sejoli yang naik turun. Nah berikut ini adalah tiga fakta penting yang telah dirangkum oleh jurnalis suksesmedia.id mengenai drakor yang telah rilis sejak tanggal 7 Maret 2025 ini:

Setting dan Latar Menarik di Era 1950-an

Drakor “When Life Gives You Tangerines” menggunakan setting awal tahun 1950-an pada awalnya. Dikisahkan dalam drama ini, Ae Sun dan Gwan Sik merupakan pasangan muda yang tengah berjuang untuk meraih cita dan cintanya. Di tengah kehidupan di Korea Selatan saat itu yang masih cukup berat, mereka berdua harus berjuang dan terus berupaya mengalahkan egonya. Bahkan dalam beberapa adegan Ae Sun tampak terlihat begitu menderita di tahun 1950-an karena ibunya meninggal dunia saat bekerja mencari kerang dan rumput laut. Belum lagi dia harus merawat adik tirinya karena pernikahan kedua ibunya memberikannya dua adik yang harus dijaganya. Beberapa perabot rumah, baju dan suasana dalam adegan di drama ini, terlihat begitu lekat dengan penderitaan orang kelas bawah di Korea Selatan selama tahun 1950-an. Puncaknya, adalah ketika dia harus mengalah dan tidak melanjutkan sekolah lalu dipaksa menikah oleh nenek dan pamannya. Situasi makin problematic karena sang ayah tiri ternyata menikah lagi dan tidak peduli dengan Ae Sun. Cerita makin pelik, ketika Ae Sun harus menerima lamaran seorang duda tua, demi memperbaiki ekonominya.

Kental Dengan Nuansa Patriarki

Siapa sangka di negeri ginseng Korea Selatan ini yang konon disebut negara maju, ternyata juga masih sangat kental dengn nuansa patriarki. Artinya, seorang anak laki-laki justru jauh lebih dihargai dan diharapkan daripada anak perempuan. Beberapa episode juga sempat menunjukkan tayangan yang cukup kental peran pria bagi keluarga. Apa pun yang diupayakan oleh wanita sepertinya kurang diapresiasi kala itu oleh keluarga. Bahkan oleh perempuan sendiri seperti nenek, dan ibu menantu sekalipun. Jadi jika kamu ingin melihat potret kehidupan masyarakat Korea Selatan zaman dulu, serial ini cukup layak untuk kamu tonton. Dan ternyata, tak hanya di Indonesia saja, di Korea Selatan pun wanita masih dinomorduakan di beberapa hal dalam hidup.

Pada Akhirnya Cinta Mampu Membuktikan Kekuatannya

Kisah cinta yang epic dan penuh romansa naik turun membuat sejumlah adegan dalam film ini cukup mengiris rasa penonton. Betapa tidak, apalagi dengan kuatnya koneksi dan relasi yang dibangun oleh As Sun dan Gwan Sik dalam menghadapi semua cobaan dan kerasnya hidup. Alih-alih menyerah mereka berdua terus berupaya dan berjuang untuk membuktikan bahwa kebahagiaan harus tetap diupayakan. Hal ini juga tampak terlihat jelas dengan kekonyolan dan sejumlah tindakan bodoh dari Gwan Sik misalnya, meloncat dari Kapal ke laut dan memilih berenang demi menemui Ae Sun, padahal dia akan diberangkatkan sebagai atlit ke Seoul. Belum lagi sejumlah tindakan konyol lainnya seperti kabur bersama Ae Sun dan mencuri perhiasan ibunya, serta berpura-pura jadi orang dewasa yang menikah padahal mereka masih di bawah umur. Namun, seiring berjalannya waktu, Ae Sun dan Gwan Sik mampu membuktikan bahwa cinta yang kuat dan ikhtiar mampu mengalahkan kerasnya hidup, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan. Jadi gimana menurut kalian? Menarik kan…!(*)

By Editor