JAKARTA – suksesmedia.id – Jepang merupakan salah satu negara maju di Kawasan asia yang sangat diperhitungkan di dunia. Apalagi dengan tingkat kemajuan ekonominya yang sangat fantastis selama beberapa dasawarsa hingga kini. Sejumlah fasilitas public yang lengkap, dan layanan kesehatan yang memadai menjadikan Jepang sebagai salah satu negara dengan Income Perkapita tertinggi bagi negara-negara di Kawasan asia. Selain itu, jepang juga telah berhasil melakukan industrialisasi di berbagai bidang seperti otomotif, farmasi dan teknologi lainnya.
Namun di tengah pesatnya kemajuan negeri Sakura ini, tersimpan sisi gelap yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang. Ibarat gunung es, Jepang yang merupakan negara maju kini ternyata telah mengalami masalah pelik dengan jumlah penduduk lansia yang kian meningkat. Tak hanya itu, angka kelahiran jepang juga makin menurun drastis karena jumlah orang menikah juga makin kecil tiap tahunnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh tingkat stress yang dialami oleh para pekerja Jepang. Inilah sisi gelap para pekerja Jepang yang luput dari perhatian banyak orang:
Karosi atau Kematian Akibat Bekerja Berlebihan
Karosi atau kematian akibat kelelahan berlebih akibat bekerja adalah salah satu fakta mencekam yang dialami oleh kaum pekerja di Jepang. Dilansir dari BBC, maraknya kematian para pekerja Jepang karena kelelahan disebabkan oleh jumlah jam kerja dan lembur yang tak masuk akal. Bahkan masih terdapat perusahaan yang menerapkan lembur sebanyak 80-100 jam per bulan. Akibat lembur yang berlebih ini, berdampak buruk pada kualitas kesehatan para pekerja di Jepang. Tak jarang karena saking lelahnya, para pekerja di Jepang meninggal karena mengalami kelelahan fisik yang ekstrem. Kasus ini bahkan pernah mencuat di Jepang dan salah satunya dialami oleh pekerja perusahaan periklanan Dentsu. Sejumlah media kala itu menyebutkan bahwa perusahaan ini terkena sanksi dari pemerintah Jepang. Namun, informasi ini hanyalah fakta gunung es yang jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya justru lebih parah.
Tingginya Tekanan Psikologis dan Isolasi Sosial
Adanya budaya kerja loyalitas kepada perusahaan yang amat besar, menyebabkan para pekerja Jepang harus berjibaku dengan pekerjaanya, hingga mengorbankan kehidupan pribadinya. Akibatnya, para pekerja di Jepang mengalami tekanan psikis yang berat. Tak jarang mereka mengalami depresi, stress hingga dorongan untuk melakukan bunuh diri. Belum lagi karena mereka makin sering menghabiskan waktunya di pekerjaan, berujung pada rendahnya interaksi sosial. Selain itu, para pekerja jepang jadi makin terisolasi secara sosial. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh pada ketrampilan para pekerja Jepang dalam berinteraksi dengan orang luar. Fenomena ini dikenal dengan sebutan hikikomori (isolasi sosial ekstrem)
Kentalnya Senioritas dan Kurangnya Fleksibilitas
Perusahaan di Jepang lebih banyak yang lebih mengutamakan senioritas dan loyalitas. Akibat dari hal ini, banyak kaum muda yang frustasi karena merasa karir mereka menjadi makin terhambat sebab kesempatan atau peluang mereka untuk mencapai karir dan menduduki posisi strategis makin kecil. Belum lagi loyalitas yang sangat kaku, menjadikan kaum pekerja muda di Jepang makin enggan untuk bekerja di industry yang sangat kompetitif. Lebih dari itu, banyak perusahaan Jepang yang jarang mempromosikan anak muda untuk jabatan atau posisi tinggi. Faktanya, banyak perusahaan di Jepang lebih menghargi loyalitas dan masa kerja yang menjadi salah satu faktor penting dalam pekerjaan.
Diskriminasi Terhadap Kaum Perempuan
Meskipun dikenal sebagai negara maju, Jepang dikenal sebagai negara yang menerapkan partiarki cukup ketat. Faktanya, hampir sebagian besar para pekerja di Jepang lebih mementingkan kaum pria dibandingkan dengan para wanita terkait jenjang karir maupun pekerjaan. Terlebih bagi para pekerja wanita yang memutuskan untuk menikah dan punya anak, mereka pun terkesan kurang dihargai dan dianggap bukan prioritas untuk menduduki jabatan penting dan strategis di perusahaan. Hingga saat ini, para perempuan di Jepang tidak banyak menempati posisi strategis di perusahaan.
Budaya Gaman dan Nomikai
Adanya budaya gaman atau enggan mengungkapkan masalah demi menjaga harmoni dalam perusahaan adalah bagian sisi gelap para pekerja di Jepang. Mereka rata-rata enggan mengungkapkan masalah ke rekan kerja atau atasan karena mengindari bermasalah dan takut jika nanti dilabel sebagai orang yang tidak bisa bekerja sama. Akibatnya, mereka tersiksa dan memendam masalah sendiri. Di sisi lain, adanya kebiasaan minum setelah bekerja dengan rekan kerja menjadikan para pekerja Jepang makin kehabisan waktunya untuk keluarga dan kehidupan sosial. Sayangnya, jika mereka menolak bergabung untuk minum usai bekerja akan dicap sebagai orang sombong dan tidak menghargai. Budaya ini disebut sebagai nomikai.
Nah itulah lima hal sisi gelap para pekerja di Jepang yang kamu tidak tahu. Jadi jangan mengira bahwa di negara maju semua pekerja hidup enak dan bebas stress ya…(*)