JAKARTA – suksesmedia.id – Di tengah makin terbatasnya kesempatan kerja belakangan ini, adanya fenomena job hugging menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi, jika dikaitkan dengan makin meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia. Selain karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan, makin banyaknya fenomena job hugging di kalangan pekerja akhir-akhir ini juga menjadikan masalah serius bagi organisasi dan pengusaha.
Lalu apa sebenarnya job hugging itu sendiri? Secara sederhana, job hugging adalah kondisi ketika seorang karyawan terlalu melekat pada pekerjaannya saat ini, enggan berpindah peran, tanggung jawab, atau mencoba hal baru, meskipun ada peluang yang lebih baik untuk berkembang. Padahal dengan mencoba hal baru, kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi jabatan justru jauh lebih besar. Namun, sayangnya banyak karyawan justru merasa enggan untuk melakukannya.
Dr. Amy Wrzesniewski, dari Yale School of Management, yang sekaligus merupakan ahli Psikologi Organisasi,menyatakan bahwa tindakan job hugging atau keengganan untuk melepas pekerjaan lama dengan pekerjaan baru, atau tugas yang baru berkaitan erat dengan zona nyaman seseorang. Tak hanya itu, tindakan ini juga berkaitan dengan rendahnya motivasi untuk berkembang dan ketidakmampuan untuk menerima perubahan dalam pekerjaan maupun organisasi itu sendiri. Menariknya, akibat tindakan ini justru berdampak buruk bagi karyawan yang melakukannya, meskipun mereka justru kurang menyadarinya.
Betapa tidak, dengan melakukan job hugging atau enggan menerima perubahan dan belajar hal baru dalam pekerjaan, sudah barang tentu mereka telah kehilangan banyak sekali peluang bagus dan kesempatan menarik. Selain itu, kemampuan karyawan yang rela melakukan job hugging ini hanya akan memperburuk kinerja mereka dalam jangka panjang. Sayangnya, banyak pemimpin dan organisasi justru kurang menyadari adanya fenomena ini dan malah berfokus pada pekerjaan rutin harian yang menghabiskan banyak waktu. Akibatnya, hal-hal strategis yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi karyawan justru terlewatkan.
Perusahaan Menyebabkan Para Pegawai Makin Skeptis
Salah satu momok yang paling ditakuti oleh para pegawai adalah ketika mereka tidak bekerja atau menjadi pengangguran. Apalagi di tengah makin sulitnya hidup belakangan ini. Belum lagi dengan faktor eksternal misalnya kondisi pasar tenaga kerja yang sangat berat dan kompetitif. Tentu saja situasi ini membuat pegawai yang sebenarnya berpotensi besar dalam pekerjaan dan dapat dikembangkan justru memilih rasa aman dengan tetap bertahan di kondisi yang sama dalam pekerjaanya. Belum lagi mereka harus menjadi penopang kebutuhan ekonomi keluarga atau bahkan menjadi generasi sandwich.
Selain faktor eksternal, sesungguhnya ada juga faktor internal dari perusahaan dan organisasi yang berdampak besar dan berujung makin merebaknya job hugging di kalangan para karyawan di perusahaan. Budaya organisasi yang tidak kondusif saat bekerja menjadikan karyawan mulai enggan untuk berkreasi dan mencari tantangan baru. Belum lagi sikap dan perilaku atasan yang kurang supportif, yang sudah barang tentu makin membuat karyawan mulai bersikap pragmatis misalnya yang penting bekerja dan digaji. Jadi mereka seolah tak ambil pusing dengan fenomena atau pun masalah yang terjadi di organisasi sepanjang di luar tanggung jawab atau tugas mereka. Parahnya, perusahaan juga kurang begitu peduli dengan pengembangan karir atau career path karyawan, sehingga menjadikan mereka kurang memiliki rasa memiliki terhadap perusahaan.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk mereduksi makin maraknya job hugging di organisasi? Hal pertama yang harus disadari oleh perusahaan adalah memastikan support system yang mendukung bagi karyawan. Support system ini berkaitan dengan atasan yang terbuka dan bersedia memberikan feed back, merancang sistem pola karir yang jelas bagi para pegawai, rotasi dan pengayaan pekerjaan bagi pegawai, sampai dengan memberikan penugasan yang lebih menantang.
Di sisi lain, yang tidak kalah penting adalah pemberian reward dan recognition yang selaras dengan capaian dan kinerja karyawan. Cara ini akan menjadi pembeda bagi karyawan yang berkinerja unggul dan karyawan yang berkinerja buruk atau biasa saja. Tentu saja tindakan ini akan menjadi motivasi kuat bagi para karyawan untuk terus meningkatkan kapabilitas dan kemampuannya. (*)