JAKARTA – suksesmedia.id – Pernahkah kamu merasakan sangat sulit tidur padahal sudah mengantuk sekali? Di sisi lain, tubuh sudah memberi sinyal untuk tidur namun mata sulit sekali terpejam, akibatnya justru didera insomnia. Bisa jadi kejadian ini merupakan bagian dari gangguan tidur yang tak jarang kamu bahkan kurang memperhatikannya.
Namun tahukah kamu bahwa sebenarnya gangguan tidur terdiri dari banyak ragam dan macamnya. Tak hanya insomnia, gangguan tidur juga bisa jadi seperti sleep apnea, gelisah saat tidur, atau jenis lainnya. Nah berikut ini adalah lima jenis gangguan tidur yang wajib kamu ketahui:
Insomnia
Insomnia adalah salah satu jenis gangguan tidur yang seringkali dialami oleh banyak orang. Gangguan tidur jenis ini biasanya ditandai dengan sulitnya untuk tidur, sering terbangung di malam hari, bangun terlalu pagi namun sulit untuk tidur kembali. Bahkan dalam beberapa kesempatan orang yang mengalami insomnia akan mudah lelah, mengantuk dan badang menjadi tidak segar usai bangun tidur. Pada banyak kasus, orang yang mengalami insomnia juga akan lebih mudah cemas, mudah marah dan sulit fokus pada hal-hal yang tengah dikerjakan. Menariknya, penyebab insomnia juga beragam mulai dari stress, gangguan kecemasan, gangguan mood, kebiasaan tidur yang tidak konsisten, sampai dengan konsumsi kafein yang berlebihan.
Sleep Apnea
Sleep apnea adalah gangguan tidur serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang terhenti secara berulang saat tidur. Henti napas ini dapat berlangsung beberapa detik hingga satu menit dan bisa terjadi ratusan kali dalam satu malam, menyebabkan tidur terganggu dan kualitas istirahat menurun drastis. Adapun gejala gangguan tidur sleep apnea bisa beragam yaitu mendengkur keras, terbangun tiba-tiba dengan rasa tersedak atau sesak napas, tidur yang tidak nyenyak, sering buang air kecil di malam hari, mengantuk berlebihan di siang hari, sertakesulitan konsentrasi bahkan tak jarang juga terjadi perubahan suasana hati.
Sleep apnea tidak hanya mengganggu tidur, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti hipertensi, stroke, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Bahkan, jika tidak ditangani, sleep apnea dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan produktivitas kerja.Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan tidur atau polisomnografi, yang memantau aktivitas tubuh saat tidur. Pengobatan dapat berupa perubahan gaya hidup, penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), alat oral, atau prosedur pembedahan jika diperlukan.
Karena sleep apnea sering tidak disadari oleh penderitanya, penting bagi keluarga atau pasangan tidur untuk memperhatikan tanda-tandanya. Konsultasi dengan dokter sangat disarankan jika mendengkur keras atau merasa selalu lelah meskipun tidur cukup. Bagaimanapun mengelola sleep apnea berarti meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi kesehatan jangka panjang.
Narcolepsy
Narcolepsy adalah gangguan neurologis kronis yang memengaruhi kemampuan otak untuk mengatur siklus tidur dan bangun. Penderita narcolepsy sering merasa sangat mengantuk di siang hari dan dapat tertidur secara tiba-tiba, bahkan saat sedang berbicara, makan, atau berkendara. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sosial, pekerjaan, dan keselamatan penderita. Sedangkan gejala yang sering timbul pada penderita narcolepsy adalah mengantuk pada siang hari secara berlebihan meskipun sudah merasakan tidur cukup, kelumpuhan otot pada saat-saat sadar tanpa sebab, mengalami sleep paralysis atau ketidakmampuan untuk bergerak atau berbicara saat baru bangun atau akan tidur.
Pada banyak kasus, penyebab utama narcolepsy belum sepenuhnya dipahami, namun penelitian menunjukkan bahwa hilangnya hormon hipokretin di otak, yang mengatur kesadaran dan tidur REM, berperan besar. Faktor genetik dan autoimun juga diyakini ikut berkontribusi. Selain itu, diagnosis dilakukan melalui observasi gejala dan tes tidur seperti polysomnography dan Multiple Sleep Latency Test (MSLT). Pengobatan umumnya mencakup obat stimulan untuk mengurangi rasa kantuk serta obat antidepresan untuk mengelola katapleksi.
Restless Legs Syndrome
Restless Legs Syndrome (RLS) atau Sindrom Kaki Gelisah adalah gangguan neurologis yang menyebabkan dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki, terutama saat sedang beristirahat atau tidur. Sensasi ini sering digambarkan seperti kesemutan, gatal, tertarik, atau terbakar di bagian dalam kaki. RLS bisa sangat mengganggu tidur dan berdampak pada kualitas hidup penderitanya.
Gejala RLS biasanya memburuk di malam hari atau saat seseorang duduk dalam waktu lama. Gerakan kaki biasanya meredakan sensasi tidak nyaman sementara, namun akan kembali muncul begitu berhenti bergerak. Karena sering mengganggu tidur, banyak penderita RLS juga mengalami insomnia atau kelelahan kronis.
Penyebab pasti RLS belum diketahui secara pasti, namun para peneliti meyakini bahwa faktor genetik, ketidakseimbangan dopamin di otak, serta kondisi medis tertentu seperti anemia defisiensi zat besi, gagal ginjal, kehamilan, dan penyakit saraf perifer berkontribusi terhadap timbulnya RLS.
Diagnosis RLS didasarkan pada gejala klinis yang dilaporkan pasien dan pengamatan dokter. Tidak ada tes laboratorium khusus, namun pemeriksaan darah dan saraf mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan penyebab lain.
Parasomnia
Parasomnia adalah kelompok gangguan tidur yang ditandai dengan perilaku atau aktivitas fisik tidak normal yang terjadi selama tidur, saat terbangun sebagian, atau saat transisi antara tidur dan bangun. Meskipun seseorang tampak sadar, perilaku yang muncul umumnya dilakukan tanpa kesadaran penuh dan sering tidak diingat keesokan harinya.
Parasomnia dapat terjadi pada tahap tidur non-REM maupun REM. Beberapa contoh umum dari parasomnia meliputi tidur bejalan atau sleep walking, terror malam, mimpi buruk berat sampai dengan sleep talking. Dalam beberaka kasus ada juga yang mengalami REM Sleep Behavior Disorder (RBD) yaitu bergerak aktif saat bermimpi karena kehilangan atonia otot normal pada fase REM.
Penyebab parasomnia dapat berkaitan dengan stres emosional, kurang tidur, gangguan psikologis, genetik, atau konsumsi obat-obatan tertentu. Anak-anak lebih sering mengalami parasomnia non-REM seperti tidur berjalan atau teror malam, sedangkan orang dewasa cenderung mengalami parasomnia REM.
Sedangkan, diagnosis parasomnia dilakukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan tidur menggunakan polisomnografi. Prosedur ini merekam aktivitas otak, gerakan otot, dan pernapasan saat tidur untuk mendeteksi pola yang tidak normal.