JAKARTA – suksesmdia.id – Korea Selatan merupakan salah satu negara yang berhasil tumbuh dari negara maju, menjadi negara berkembang. Berbagai bentuk kemajuan selama tiga dekade telah berhasil diraih oleh negeri ginseng ini. Adapun bentuk kemajuan tersebut diantaranya adalah keberhasilan industrialisasi, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sampai dengan kehidupan maupun status sosial yang meningkat drastis.

Namun, di tengah hiruk-pikuk keberhasilan Korea Selatan memacu keberhasilannya, tahukah kamu bahwa persaingan kerja di Korea Selatan sangatlah sengit. Tak jarang, banyak pegawai yang harus lembur berlebihan atau bekerja ekstra keras agar mampu mendapatkan karir yang mereka idamkan. Tak hanya itu, persaingan dan intrik antar pegawai pun konon menjadi salah satu pemicu, banyaknya pegawai profesional atau pekerja kantoran di Korea Selatan banyak menderita depresi. Nah berikut ini adalah delapan fakta yang merupakan sisi gelap dari bekerja di Korea Selatan:

Jam Kerja yang Panjang

Salah satu ciri khas dunia kerja di Korea Selatan adalah jam kerja yang panjang. Meskipun pemerintah telah mencoba memberlakukan reformasi untuk mengurangi jumlah jam kerja, budaya overtime masih sangat mengakar. Berdasarkan data dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Korea Selatan termasuk dalam negara dengan jam kerja terpanjang di dunia.

Budaya “ppalli-ppalli” (cepat-cepat) yang menekankan efisiensi dan produktivitas menyebabkan para pekerja sering kali merasa terpaksa untuk bekerja lebih lama dari jam yang seharusnya. Banyak pekerja merasa sulit untuk pulang tepat waktu karena takut dianggap kurang berdedikasi atau tidak menghormati atasan. Dalam beberapa kasus, ini menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang serius.

Tekanan Sosial yang Tinggi

Budaya kerja di Korea Selatan sangat hierarkis. Hubungan antara atasan dan bawahan sering kali kaku, di mana bawahan merasa harus menunjukkan kepatuhan dan dedikasi penuh terhadap perusahaan dan atasannya. Hal ini bisa menyebabkan tekanan sosial yang tinggi di tempat kerja, terutama bagi karyawan muda atau mereka yang baru memulai karier.

Konsep “hoeshik” atau makan malam kantor setelah jam kerja juga menjadi bagian dari budaya perusahaan di Korea Selatan. Meskipun dianggap sebagai cara untuk mempererat hubungan antarpekerja, acara ini sering kali bersifat wajib, meskipun tidak secara eksplisit dinyatakan. Karyawan yang menolak menghadiri acara semacam ini sering kali dipandang negatif atau tidak mendukung semangat tim, sehingga mereka merasa tertekan untuk hadir, bahkan jika mereka sudah lelah setelah bekerja seharian.

Fenomena “Karoshi” (Kematian Akibat Bekerja Berlebihan)

Kasus “karoshi” (kematian akibat bekerja berlebihan) bukan hanya terjadi di Jepang, tetapi juga di Korea Selatan. Stres kerja, jam kerja yang panjang, dan kurangnya waktu istirahat sering kali menyebabkan kondisi kesehatan yang memburuk bagi para pekerja, baik secara fisik maupun mental.

Burnout atau kelelahan ekstrem juga menjadi masalah serius. Dalam beberapa kasus, para pekerja merasa bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi tekanan kerja adalah dengan terus bekerja lebih keras, yang justru memperburuk kondisi mereka. Beberapa kasus ekstrem mengakibatkan kematian mendadak karena serangan jantung atau stroke, yang disebabkan oleh stres berlebihan dan kelelahan.

Diskriminasi Gender di Tempat Kerja

Meskipun Korea Selatan telah membuat kemajuan dalam hal kesetaraan gender, diskriminasi terhadap perempuan di dunia kerja masih sangat nyata. Perempuan di Korea Selatan sering kali menghadapi kesulitan untuk naik jabatan atau mendapatkan pengakuan yang sama dengan rekan-rekan pria mereka, meskipun mereka memiliki kualifikasi yang sama atau lebih baik.

Selain itu, banyak perusahaan masih memberlakukan praktik yang menghambat perempuan untuk kembali bekerja setelah mereka mengambil cuti melahirkan atau memutuskan untuk merawat keluarga mereka. Tekanan sosial yang kuat terhadap perempuan untuk mengambil peran tradisional sebagai ibu rumah tangga juga memperparah situasi ini, membuat perempuan sulit untuk menyeimbangkan antara karier dan keluarga.

Kesehatan Mental yang Terabaikan

Kesehatan mental di Korea Selatan masih menjadi topik yang sering diabaikan, terutama dalam dunia kerja. Stigma terhadap kesehatan mental sangat kuat, di mana orang yang mengakui mengalami stres atau gangguan mental sering dianggap lemah atau tidak mampu mengatasi tekanan.

Akibatnya, banyak pekerja yang menahan diri untuk tidak mencari bantuan profesional, meskipun mereka mengalami kecemasan, depresi, atau masalah mental lainnya. Korea Selatan memiliki salah satu tingkat bunuh diri tertinggi di dunia, dan tekanan di tempat kerja sering kali menjadi salah satu faktor penyebab utamanya, terutama di kalangan pekerja muda.

Kultur Kompetisi yang Keras

Korea Selatan dikenal dengan budaya kompetisi yang sangat ketat, dimulai dari dunia pendidikan hingga ke dunia kerja. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar seperti Samsung, Hyundai, atau LG sangat ketat, dan mereka yang berhasil mendapatkan posisi tersebut harus terus-menerus bersaing dengan rekan kerja untuk mempertahankan posisi mereka atau naik jabatan.

Kultur ini menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan dan membuat banyak pekerja merasa cemas atau terisolasi. Alih-alih bekerja sama, sering kali karyawan merasa harus berkompetisi satu sama lain untuk mendapatkan pengakuan atau promosi, yang dapat menciptakan suasana kerja yang tidak sehat.

Minimnya Keseimbangan Kehidupan Kerja dan Pribadi

Kehidupan pribadi sering kali dikorbankan demi pekerjaan di Korea Selatan. Banyak pekerja yang sulit menemukan waktu untuk keluarga, teman, atau bahkan diri mereka sendiri karena tuntutan pekerjaan yang sangat tinggi. Konsep work-life balance (keseimbangan kehidupan dan kerja) masih relatif baru di Korea Selatan dan belum sepenuhnya diterima atau dipraktikkan oleh banyak perusahaan.

Ini membuat banyak orang merasa bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk merawat diri sendiri, beristirahat, atau melakukan hal-hal yang mereka nikmati di luar pekerjaan. Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap stres dan kelelahan.

Kontrak Kerja Sementara dan Job Insecurity

Meski ekonomi Korea Selatan tumbuh dengan pesat, banyak pekerja yang tetap mengalami job insecurity atau ketidakpastian kerja. Banyak perusahaan yang memberlakukan kontrak sementara bagi para pekerjanya, di mana mereka hanya dipekerjakan dalam jangka waktu tertentu tanpa jaminan kontrak permanen. Hal ini membuat para pekerja merasa tidak aman dan terus-menerus khawatir akan masa depan mereka, karena mereka bisa saja kehilangan pekerjaan kapan saja.

Ketidakpastian ini membuat banyak orang bekerja lebih keras dari yang seharusnya untuk memastikan bahwa kontrak mereka diperpanjang atau untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik. (*)

By Editor