JAKARTA- suksesmedia.id – Banyak orang beranggapan bahwa orang yang memiliki kecerdasan tinggi dan kinerja baik, lantas kemudian akan sukses meniti karir hingga posisi puncak. Padahal, komponen pengembangan karir bukan sekadar kecerdasan, pendidikan tinggi atau kinerja yang optimal di perusahaan. Dalam realitasnya, karir seseorang dipengaruhi oleh multi faktor yang saling berkaitan. Adapun faktor tersebut juga saling mendukung satu dengan lainnya. Misalnya tingkat kesesuaian kompetensi jabatan terhadap indeks kompetensi yang dicapai oleh seseorang, yang menduduki jabatan tertentu, kemampuan seseorang dalam mengelola perubahan dan ketidakpastian, sampai dengan daya tahan atau resiliensi pada saat mengalami kesulitan dalam pekerjaan.
Sayangnya, tidak semua orang mampu mengatasi kesulitan dan ketidaknyamanan dalam pekerjaan. Suka ataupun tidak, kesulitan dan tantangan dalam pekerjaan menjadikan kompetensi individu akan semakin meningkat. Peningkatan ini bukan sekadar kompetensi teknis yang berkaitan dengan pekerjaan saja, namun juga berkaitan dengan kompetensi perilaku yang justru lebih kompleks seperti misalnya kemampu mengelola stres, kemampuan menyampaikan argumen saat tidak setuju dengan atasan namun tetap asertif, kemampuan mencari terobosan dalam menyelesaikan masalah pekerjaan yang sulit dan kompleks, serta masih banyak lagi permasalahan lain yang kadang hadir tak terduga dalam pekerjaan.
Peter Cappelli, Professor of Management di Wharton dan Director of Wharton’s Center for Human Resources, bersama Ranya Nehmeh menunjukkan persoalan yang menarik, bahwa top performer di dunia kerja pun dapat mengalami karier yang stagnan, ketika organisasi tidak menyediakan jalur perkembangan yang nyata. Sebab bagaimanapun kinerja yang unggul adalah bagian dari masa lalu terhadap capaian pekerjaan dan untuk pekerjaan selanjutnya dibutuhkan kompetensi dan skill yang lebih mempuni agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal dalam pekerjaan. Bahkan orang yang memberikan hasil kerja terbaik, atau best performer dalam beberapa kasus belum tentu siap untuk mendapatkan promosi jabatan yang lebih kompleks. Artinya, seseorang berkinerja unggul tak lantas kemudian memiliki potensi untuk bisa mengerjakan hal lebih di luar kapasitas pekerjaanya, sehingga layak dipromosikan untuk jabatan lebih tinggi di masa sekarang ataupun yang akan datang.
Orang Pintar Cenderung Perfeksionis dan Mudah Cemas
Orang-orang yang unggul dalam hal akademik, tak jarang gagal di fase awal dalam pekerjaanya karena ternyata tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan dan tekanan pekerjaan yang kompleks. Apalagi di tengah tuntutan keceptan kerja dan hasil yang diharapkan oleh manajer ataupun atasan saat ini. Alih-alih berusaha beradaptasi, tak sedikit para pekerja yang baru memulai karir justru merasa pekerjaan yang mereka jalani kurang cocok. Padahal, mereka baru menjalaninya belum sampai satu tahun. Tentu saja dalam konteks penilaian kinerja siklus ini belum bisa dinilai hasil kerja yang telah diberikan oleh yang bersangkutan.
Menariknya, banyak anak muda yang pintar saat menempuh pendidikan tinggi di kampus, kemudian mengalami culture shock atau gegar budaya saat menjalani masa-masa kerja di fase awal. Merasa tidak cocok, menganggap pekerjaan yang terlalu teknis, kurang menantang dan masih banyak alasan lainnya yang sebenarnya belum relevan bagi anak muda yang baru masuk dunia kerja.
Fakta lain yang kadang kurang disadari oleh para pekerja yang memulai fase awal pekerjaan dan pintar pada saat menempuh pendidikan, biasanya mereka terlalu perfeksionis dan khawatir jika gagal. Tak hanya itu, mereka juga merasa bahwa kemelekatan terhadap identitas diri berkaitan dengan kepintaran mereka sedikit banyak sulit mereka tinggalkan, sehingga membuat mereka mudah cemas dan didera rasa khawatir berlebihan. Di sisi lain, ketakutan terhadap kegagalan menjadikan orang-orang yang pintar secara akademik ini lantas menjadikan mereka kesulitan menerima kegagalan, termasuk dalam hal pekerjaan. Padahal, kegagalan adalah bagian dari peluang dan ruang untuk bertumbuh. Akhirnya, mereka akan menyerah dan mencari lagi perusahaan baru untuk bekerja dan memulai kembali dengan kompetensi yang belum matang. Lalu bisa ditebak kemudian. Mereka menjadi karyawan yang tidak matang secara kompetensi baik teknis maupun perilaku. Tentu saja hal ini berakibat pada karir yang stagnan dan tidak berkembang dengan baik dalam jangka panjang. (*)